- Back to Home »
- Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Paling Sederhana
Posted by : Unknown
Minggu, 31 Maret 2013
Saya yakin
Anda sudah mengenal Mahmoud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad,
presiden Iran yang sangat konsisten memberikan perlawanan atas arogansi Amerika
dan sekutunya, terutama dalam hal pengelolaan nuklir. Mahmoud Ahmadinejad
adalah Presiden Iran yang keenam dan memperoleh 61.91% suara pemilih pada
pilpres Iran tanggal 24 Juni 2005. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3
Agustus 2005. Tahun lalu, Ahmadinejad kembali terpilih sebagai Presiden Iran
ketujuh.
Ia pernah
menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 waktu ia terpilih
sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang
sangat loyal terhadap nilai-nilai Revolusi Islam Iran, 1979. Tapi pernahkan
Anda menelusuri latar belakang dan sifat kesederhanaannya, meskipun kini
menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran untuk kedua kalinya?
Mahmoud Ahmadinejad Lahir di daerah
desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 120 kilometer arah tenggara
Teheran.
Dia
merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, berasal dari keluarga Syiah. Ia
merupakan putra seorang pandai besi. Seseorang yang tidak terkenal, bukan tokoh
ulama, juga bukan tokoh politik di negara Iran.
Ahmadinejad
kecil tumbuh layaknya seorang remaja di usianya. Dikenal sebagai penggemar
sepakbola dan jago bermain sepakbola. Dia juga pintar matematika. Selain itu
Ahmadinejad terkenal memiliki suara yang bagus, seperti saat membaca Al-Quran
maupun pidato.
Tidak ada
yang mengira Mahmoud Ahmadinejad dapat terpilih menjadi Presiden Iran, karena 6
kandidat presiden lainnya merupakan tokoh ulama atau tokoh politik yang
memiliki sumber dana besar. Ahmadinejad terpilih karena rakyat menyukai gaya
dan sifatnya yang sederhana.
Walikota Teheran
Ahmadinejad
lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Saat menjabat Walikota
Teheran, kemana-mana selalu menyetir sendiri, tetap tinggal di rumah susunnya,
membersihkan lingkungannya sendiri, suka mengamati sendiri setiap sudut kota
dan lain-lain. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang
dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan
mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat
kebudayaan.
Presiden
Mohammad Khatami pernah
melarangnya menghadiri pertemuan Dewan Menteri, suatu hak yang biasa diberikan
kepada para walikota Teheran. Hal ini dikarenakan pada waktu Khatami menuju
Universitas Teheran, Khatami terjebak macet. Khatami mengkritik Ahmadinejad
yang saat itu menjabat walikota Teheran.
Namun
bukannya tergesa-gesa membereskan masalah tersebut, Ahmadinejad justru berkata:
“Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang
sesungguhnya”. Namun Ahmadinejad tetap santai menghadapi larangan tersebut.
Sifatnya
yang sederhana ini masih terlihat saat Ahmadinejad terpilih menjadi Presiden.
Karpet-karpet merah persia mahal dikeluarkan semua dari istana, menolak mobil
limosine dan tetap setia menggunakan mobil tuanya serta tetap tinggal di rumah
susunnya.
Selain
sifatnya yang sederhana ia dicintai karena lebih mementingkan memperbaiki
ekonomi negara ketimbang bidang-bidang lain dan memperjuangkan setiap
pendapatan minyak bumi agar jatuh ke meja makan rakyat Iran.
Kontroversi Ahmadinejad
Ahmadinejad
semakin populer dengan kutipan pernyataannya dalam sebuah pertemuan di hadapan
para mahasiswa pada 26 Oktober 2005 dari pernyataan Ayatollah Khomeini yang
menyerukan agar Israel “dihapus dari peta dunia” memicu kontroversi. Selain,
menuai kecaman dari berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Shimon Peres.
Peres bahkan membalas dengan menuntut agar Iran dikeluarkan dari keanggotaan di
Perserikatan Bangsa-bangsa.
Pernyataan
yang kontroversial ini diulang kembali pada 14 Desember 2005. Saat itu, ia
berkata bahwa Holocaust (peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh
rezim Nazi pada masa Perang Dunia II) hanyalah sebuah mitos yang digunakan
bangsa Eropa untuk menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam. Ia juga
sempat menyelenggarakan konferensi tentang Holocaust.
Sementara,
kritik dalam negeri mengenai kebijakan domestik dan luar negeri terus mengalir
deras. Kritik datang dari tokoh ulama besar Ayatollah Hossein Ali Montazeri.
Merujuk retorika Ahmadinejad terhadap Amerika Serikat, Montazeri menyatakan
bahwa sangat perlu bertindak logis terhadap musuh dan tidak memprovokasi. Bagi
Montazeri, ekstremisme tidak berbuah baik untuk rakyat.
Iran menegaskan bahwa pengembangan
teknologi nuklir merupakan hak yang tidak bisa disangkal meskipun Dewan
Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran untuk menghentikan
program pengayaan uranium. Ahmadinejad mendapat kritikan dari kalangan
konservatif maupun reformis mengenai kebijakan ekonominya dan cara dia
menangani isu nuklir Iran.
Hidup Sederhana ala Ahmadinejad
“Ingat,
kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab
yang berat, yaitu melayani bangsa Iran. (Mahmoud Ahmadinejad)”
Ahmadinejad
terkenal dengan kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai
personal maupun sebagai seorang Presiden Iran. Dalam sebuah sesi wawancara
bersama wartawan TV Fox dari Amerika, terungkaplah sisi-sisi menakjubkan dari
seorang Ahmadinejad, kehidupannya yang sangat sederhana menjadi sangat
membanggakan jika kita bandingkan dengan kehidupan para pejabat di negeri kita sendiri,
Indonesia. Apa saja itu?
Saat Menjabat Presiden
Saat pertama kali menduduki kantor
kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi
nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet
biasa yang mudah dibersihkan.
Ia mengamati
bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,
lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada
protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski
sederhana tetap terlihat impresive.
Langkah
pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari
Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang
lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan
satu-satunya uang yang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di
sebuah universitas yang hanya senilai US$ 250.
Selama
menjabat sebagai Presiden Iran, Ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia tidak
mengambil gajinya sebagai Presiden, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan
adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
Sang
presiden selalu membawa tas setiap hari yang berisikan sarapan; roti isi atau
roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,ia juga
menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
Selain itu,
hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang Kepresidenan, ia
mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan
untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas
ekonomi.
Ia juga memangkas protokoler istana
sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada
hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah,
sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi
berbagai tempat di negaranya.
Presiden
Iran ini kerap tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari
pengawal-pengawalnya yg selalu mengikuti ke manapun ia pergi.
Kehidupan Spiritual Ahmadinejad
Berbeda
dengan perlakuan terhadap presiden dan pejabat pemerintah di negara kita,
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tidak akan melangkahi makmum lain di sebuah
mesjid jika ia datang terlambat. Ia akan duduk di barisan ke berapa pun yang
didapatinya.
Dalam
aktivitas kesehariannya sebagai Presiden, ketika suara azan berkumandang, ia
langsung mengerjakan sholat di manapun ia berada meskipun hanya beralaskan
karpet biasa. Ketika menikahkan puteranya baru-baru ini, beliau hanya
menyelenggarakan acara yang sangat sederhana layaknya acara kaum buruh, sangat
berbeda dengan pernikahan keluarga Presiden di negeri kita.





